Kesegaran Kebun Teh Sidamanik


Usai menikmati matahari terbit di dataran tinggi Tongging, biasanya perjalanan dilanjutkan ke Parapat lantas menyeberang ke Pulau Samosir. Lintasan yang dilalui biasanya cukup menggoda untuk singgah sejenak di salah satu perkebunan teh yang terhampar luas di daerah Sidamanik ini. Bersama rekan-rekan fotografer dalam rombongan Canon-Fotografer.net Hunting Series 2009 Toba Lake, tentu kunjungan ke Sidamanik ini tak disia-siakan begitu saja.

Setidaknya ada 3 perkebunan teh yang ada di 2 kecamatan di daerah Sidamanik ini. Ada kebuh teh Toba Sari, Sidamanik, dan Bah Butong. Dulu ketiga kebun tersebut termasuk dalam kecamatan Sidamanik. Tapi sekarang secara administratif telah dimekarkan menjadi 2 kecamatan, yakni Kecamatan Sidamanik dan Kecamatan Pematang Sidamanik. Secara administratif, daerah Sidamanik masuk dalam wilayah Kabupaten Simalungun.

Kebun teh Toba Sari, tempat rombongan mampir, dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV (Persero). Sayang, tak banyak informasi yang bisa digali di situs resmi PTPN IV ini. Konon perkebunan teh di Sidamanik ini adalah yang terbesar di Sumatra dan sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Banyak orang Jawa yang dikirim untuk bekerja di sini, sampai sekarang pun masih demikian adanya.
Data mengenai kebun teh Sidamanik diperoleh dari Kompas Cyber Media edisi 26 Maret 2007, yang menyebutkan bahwa kebun teh seluas total 3.315 hektar ini berada di elevasi 900 meter di atas permukaan air laut. Publikasi itu menyebutkan pula bahwa produksi teh selama Januari 2007 sebesar 404.397 kg senilai 475.862 dollar AS. Kalau saat ini produksi masih sekitar angka tersebut, berarti diperkirakan total ekspor selama setahun bisa senilai lebih dari 5 juta dollar AS.

Tak sulit mencapai perkebunan teh Sidamanik ini. Jika menginap di Brastagi, lantas menikmati matahari terbit di Tongging, perjalanan dari Tongging memakan waktu sekitar satu jam saja dengan kecepatan santai. Rombongan fotografer bisa membutuhkan waktu lebih, lantaran sering berhenti untuk memotret obyek-obyek yang menarik di sepanjang perjalanan.

Mulanya rombongan merasa kurang yakin bisa mendapat foto bagus di perkebunan teh ini lantaran hari sudah terlampau siang. Pasti sudah tak ada lagi kegiatan para pekerja pemetik teh. Tapi, ternyata hari itu rombongan amat beruntung. Tak perlu imbuhan obyek berupa pekerja teh lagi, karena langit biru dan awan yang bagai lukisan disapu kuas nan ekspresionis sudah menjadi obyek foto yang amat indah. Bahkan lebih indah dari bayangan yang muncul di benak tiap peserta hunting.

Kebun teh Sidamanik bisa juga diakses melalui Pematang Siantar, yang berjarak hanya sekitar 20 km saja. Jika Anda berangkat dari Pematang Siantar menuju Sidamanik, bisa dipastikan Anda akan melewati Raya, ibukota Kabupaten Simalungun, yang adalah tanah leluhur saya. Rumah oppung (kakek, dalam bahasa Batak) ada di dekat simpang tiga Raya, di jalan raya antara Pematang Siantar-Seribu Dolok.

Tak sulit hunting foto di perkebunan teh Sidamanik. Hamparan luas perkebunan dengan alur-alur jalan setapak di antaranya sudah menjadi pola yang menarik untuk menyusun komposisi fotografi. Syukur kalau Anda bisa mengusahakan waktu berkunjung di pagi hari, maka bisa memperoleh obyek aktivitas para pekerja kebun teh.

Bekali diri dengan filter polarisasi. Nama lainnya adalah CPL, kependekan dari circular polarizing. Fungsinya adalah memekatkan warna biru pada langit, membelokkan refleksi cahaya dan menambah saturasi warna. Pakai kamera saku (pocket) tak masalah, asal Anda jeli memilih obyek foto.

 

Penulis: Kristupa Saragih

(Sumber: kompasiana)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s